Survei LSI Denny JA: Jokowi Dan Prabowo Gagal Gaet Undecided Voters

JawaPos.com – Selama kurang lebih 6 bulan sejak pendaftaran calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) pada Agustus 2018, elektabilitas kubu Jokowi-Ma’ruf Amin maupun Prabowo-Sandiaga Uno cenderung stagnan. Tidak ada pergerakan signifikan dari naik atau turunnya pemilih elektoral mereka. Termasuk, dalam kategori undecided voters.

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan, pemilih yang belum menentukan pilihan dalam 6 bulan terakhir memang menurun. Terlihat dari grafik yang terus menurun. Tetapi, dia menyebut penurunannya sangat lambat.

“Ketika pendaftaran capres dimulai, undecided voters ada 18,3 persen. Saat ini, sudah 14,2 persen,” ujar Adjie di kantor LSI Denny JA Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (7/2).

Adjie Alfaraby merinci dari survei LSI Denny JA, diketahui bahwa undecided voters sudah turun pada September di level 17,6 persen. Satu bulan kemudian atau Oktober turun cukup jauh menjadi 13,7 persen. Namun, pada November kembali naik menjadi 15,6 persen. Berlanjut di Desember menjadi 15,2 persen dan di Januari 2019 menjadi 14,2 persen.

Hal itu menunjukan bahwa selama 6 bulan hanya terjadi penurunan undecided voters sekitar 4 persen. Atas dasar itu kedua pasangan calon dianggap belum berhasil menarik kategori pemilih yang belum menentukan pilihan. 

“Kedua pasangan capres-cawapres belum berhasil mengatasi pemilih dari kategori undecided voters,” jelas Adjie.

Meski demikian, situasi saat ini terbilang menguntungkan bagi pasangan Jokowi-Ma’ruf. Sebab terjadi stagnansi elektabilitas dan undecided voters. Sementara, gap elektabilitas 01 dan 02 mencapai 20 persen. Yaitu 54,8 persen berbanding 31,0 persen.

“Pasangan Jokowi-Ma’ruf punya potensi lebih besar memenangi 2019, selain elektabilitas masih cukup tinggi kedua jarak eletabilitas terjaga,” pungkas Adjie.

Sebagai informasi, survei LSI Denny JA dilakukan dalam periode 18-25 Januari 2019. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan wawancara tatap muka. Responden yang dilibatkan sebanyak 1.200 orang, dengan margin of error 2,8 persen.

Editor           : Dhimas Ginanjar
Reporter      : Sabik Aji Taufan