Milenial Dalam Pusaran Politik Identitas

“Kalau pemilu bisa merubah sesuatu, mereka akan melarangnya”

 Kalimat di atas adalah penggalan dialog dalam film Our Brand is Crisis, antara Jane seorang konsultan politik dengan Eduardo seorang volunteer muda, yang masih sangat polos dan naif dalam mendukung kandidat pilihannya. Mereka sama-sama sedang berjuang memenangkan Castilo sebagai calon presiden Bolivia.

Sang volunteer berjuang totalitas demi memenangkan presiden pilihannya. Demi harapan besar terwujudnya perubahan yang lebih baik bagi negaranya. Dia yakin Castilo pasti akan memenuhi janjinya dan membuat Bolivia menjadi lebih baik.

Sikap yang tentu saja dianggap naif bagi sang konsultan, yang sangat mengerti, bagaimana kekuasaan itu diraih dengan segala intrik dan tipu dayanya. Bahkan Jane pun sangat memahami, bagaimana karakter Castilo yang sebenarnya.

Dari gambaran itu, kita bisa melihat adanya perbedaan sudut pandang konsultan dan volunteer. Sang konsultan melihatnya dari sudut pandang sebagai subjek yang merencanakan strategi, isu, dan janji kemenangan. Sedangkan volunteer adalah objek atau bagian rencana dari strategi, isu dan janji-janji yang disampaikan. Tanpa menyadari bahwa mereka hanyalah pion perebutan kekuasaan. Ketika kekuasaan telah meninggalkan janjinya, barulah mereka tersadar akan segala kenaifannya.

Politik Identitas

Bila kita melihat dalam konteks pemilihan presiden Indonesia saat ini. Rasanya kita akan sepakat, bahwa suhunya begitu panas. Dikotomi antara kedua pendukung kandidat, membuat hubungan sebagai sesama anak bangsa menjadi asing dan canggung. Ruang perdebatan yang kerap berisi cacian dan makian main sering kita temui baik dalam keseharian.

Begitu dasyatnya perang para volunteer di media sosial. Membuat kita menjadi tidak asing dengan kata-kata makian dan cacian. Kebencian pun tumbuh dengan subur di tengah kita. Apakah kita sudah terbelah sebagai bangsa? Mungkinkah demokrasi kita benar-benar sudah terjebak dengan politik identitas, mengingat kebenaran pun telah dipersempit dan dikapitalisasi melalui sudut pandang identitas-identitas politik.

Memang Indonesia yang majemuk dengan beragam suku, ras, dan agamanya tidak akan tehindar dari politik identitas. Tapi mengkapitalisasinya sebagai isu utama dalam merebut kekuasaan, adalah sebuah kemunduran. Ketika elite politik telah menggelorakan gerakan us versus them untuk kemenangannya. Sesunggunya kita telah berada di jurang perpecahan sebagai bangsa.

Dalam konteks ini, sudah seharusnya rakyat mengambil peran sebagai subjek pesta demokrasi ini. Mampu menjadi individu yang independen dalam menganalisa dengan baik dan tepat figur serta jejak rekam calon pemimpin yang akan dipilihnya. Tidak ikut terjebak dalam pusaran politik identitas, yang hanya akan memberi warna kebencian dalam ruang demokrasi kita.

Kita harus belajar dari Rwanda, negara yang hancur karena politik identitas. Porak poranda karena kebencian dan genosida. Politik identias jugalah yang melahirkan etno-nasionalisme di Yugoslavia, yang akhirnya menghapus negara itu dari peta dunia selamanya.

Dalam sejarahnya, Indonesia pun pernah mengalami penjajahan ratusan tahun. Mengapa tu terjadi ? karena begitu mudahnya kita dipecah dalam prespekstif kesukuan, ras, dan agama. Belanda dengan politik devide et impera, begitu mudah menghasut kita untuk saling memerangi sesama anak bangsa.

Kemajemukan memang membuat manusia lahir dengan identitas kesukuan, ras, dan agama yang berbeda-beda. Tapi sebagai bangsa, menjadikan identitas sebagai dasar fanatisme dalam memilih pemimpin adalah penghianatan terhadap perjuangan para pahlawan bangsa. Karena harus diingat, bahwa embrio kemerdekaan Indonesia itu muncul, justru ketika kita mendeklarasikan diri dalam bingkai kesatuan sebagai bangsa Indonesia, yang di makhtubkan dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928.

Peran Penting Milenial

Berkaca dari sejarah, akankah kita mundur kembali sebagai bangsa dengan mendegradasi rasa persatuan kita. Kembali mengkotak-kotakan diri kita dalam bingkai politik identias? Di sinilah para milineal Indonesia harus mengambil perannya, sebagai pemilih terbesar dalam pilpres 2019.

Perlu diingat, bahwa para inisiator sumpah pemuda 28 Oktober 1928 adalah milenial di zamannya. Mereka dengan segala keterbatasan, bergerak dengan tulus dan ikhlas untuk semata-semata kepentingan Indonesia. Melepaskan pakaian kesukuaan, ras, dan agamanya. Melebur dalam satu cita-cita, menjadi Bangsa Indonesia yang merdeka.

Peran penting itu, tentu harus dilanjutkan dengan anak muda hari ini. Berdasarkan data KPU, pemilih milenial mencapai 40% dari jumlah DPT pemilu 2019. Persentase ini, harus menjadi kekuatan besar milenial. Sebagai motor utama dalam Pilpres 2019 ini, sehingga produknya menghasilkan presiden yang mampu memberikan solusi bagi semua permasalahan bangsa.

Milenial wajib memastikan demokrasi Indonesia berjalan dengan sehat, dalam bingkai ke-Indonesian-an. Tidak ikut terjerumus dalam pusaran politik identitas yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Pemimpin yang baik adalah negarawan yang menyiapkan dirinya untuk melayani seluruh kepentingan bangsa. Berbicara tentang kemajuan generasi yang akan datang. Politik identitas, jelas bukan ciri seorang negarawan. Karena politik identitas hanya akan bermuara pada dendam semata. Mencerai-beraikan anak anak bangsa, yang akhirnya membuat demokrasi kita hanya dipakai sebagai alat membalaskan dendam-dendam politik.

Pemilihan presiden 2019 adalah pesta demokrasi rakyat Indonesia. Tentu kita tidak apatis seperti sang konsultan dalam film Our Brand Is Crisis. Pemilu masih menjadi harapan utama kita untuk mendapatkan pemimpin yang terbaik untuk Indonesia. Syaratnya, para milineial harus membentuk sudut pandang yang cerdas dan kritis. Sebagai dasar untuk total berjuang demi kemajuan Indonesia.

Milenial tidak boleh terjebak propaganda-propaganda yang dikemas dalam polesan pencitraan. Kalau itu yang terjadi, maka milenial Indonesia akan bernasib sama dengan sang volunteer muda.

Menelan pil pahit kekecewaan, karena diakhir film Our Brand Is crisis, sang calon presiden yang dibelanya dengan penuh fanatisme, menghianati janji utamanya hanya dalam hitungan hari setelah dilantik. Kenapa itu terjadi? Karena sang voulenter muda terjebak dalam pusaran permainan politik sang kandidat, melalui polesan konsultan politiknya. Tejebak dalam romantisme dan janji-janji, yang kemudian menghilangkan nalar dan objektifitasnya, untuk melihat kebenaran sesungguhnya.

Semoga saja, milenial Indonesia mampu keluar dalam pusaran politik Identitas. Mungkin ada baiknya juga, para milineial menyempatkan diri menonton Our Brand Is Crisis. Supaya bisa mendapatkan tambahan referensi, untuk melihat kampanye politik itu dikelola.

Supaya terhindar dari fanatisme politik dan berpikir jernih dalam menentukan pilihannya. Sehingga penilaian utama dalam Pilpres 2019 berdasarkan konsensus-konsensus untuk memperkuat kita sebagai bangsa, yang distimulus dalam pertarungan program-program nyata yang terukur untuk kepentingan Indonesia sebagai bangsa dan negara. (*)

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesia Sosial Media Politica.

*Praktiksi Politcal Branding dan Media Sosial