Luhut Komentarai Ibadah Prabowo, Nizar Anggap Kubu Sebelah Lagi Panik

JawaPos.com – Partai Gerindra meradang mendengar ucapan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yang dianggap menyindir calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. Kalimat yang kemudian dipersoalkan adalah ‘Jokowi Tukang Sembahyang dan Puasa, yang Sana Belum Jelas’.

Menurut Ketua DPP Partai Gerindra Nizar Zahro, Luhut dinilai tidak tepat memberikan komentar terhadap agama orang lain. Lagi pula ibadah merupakan ranah privat umat kepada Tuhan. Sehingga tidak pantas ditarik ke ranah politik.

“Apa urusannya Bapak Luhut ngomongin soal ibadah agama lain. Ini soal privasi pemeluk agama Islam dengan kewajiban dan larangan sesuai agama islam. Kalau tidak karena kepentingan politik. Ini yang justru membawa agama kepada politik dengan cara fitnah, membangun opini dan berujung pada persoalan like and dislike,” kata Nizar saat dihubungi, Senin (11/2).

Nizar menuturkan, ucapan yang dilontarkan oleh Luhut memiliki tujuan politis. Menurut anak buah Prabowo Subianto tersebut, alasannya tak lain karena kubu 01 tengah panik lantaran elektabilitasnya yang terus terkejar.

“Komentar seperti ini selain hanya bertujuan politik sesaat, ini juga menunjukkan sikap panik karena merasa berada di ambang kekalahan. Logikanya, kalau tidak karena merasa kalah ngapain sampai harus komentar masalah ibadah begini. Apalagi (mohon maaf setahu saya  Bapak Luhut dan Bapak Prabowo kan beda Agama),” tegasnya.

Tak hanya itu, Nizar juga menuding Luhut tengah ingin membenturkan sesama anak bangsa. Bagi dia, amal dan ibadah yang paling mengetahui adalah Prabowo dengan Tuhan, bukan berdasarkan pernyataan pembantu Jokowi tersebut.

“Pak Luhut ini juga dalam rangka untuk membenturkan satu sama lainnya. Ini yang dapat memecah belah bangsa. Yang tau bagaimana amal ibadah Bapak Prabowo adalah pak prabowo sendiri tidak bisa di nilai oleh orang lain,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, labelisasi Jokowi sebagai capres yang jauh dari nilai-nilai Islam dianggap salah besar.

Jokowi, menurut Luhut, dikenal merupakan figur yang rajin salat dan berpuasa. Sementara itu, meski tak menyebut nama, dia menyindir pihak lain yang dianggap ibadahnya belum jelas.

“Jadi kalau dibilang, misalnya Jokowi kriminalisasi ulama. Itu darimananya? sejak saya kenal 12 tahun dia (Jokowi) tukang sembahyang dan puasa. Yang sebelah sana belum jelas,” kata Luhut di Jiexpo, Kemayoran, Minggu (10/2).

Di sisi lain, dirinya juga membantah bahwa Jokowi merupakan sosok yang otoriter. Usai menjadi pembantu presiden, Luhut malah melihat mantan Wali Kota Solo itu merupakan sosok yang sebaliknya.

“Tidak otoriter. He listen to you carefully (dia mendengar sangat hati-hati, red). Saya mengalaminya,” terangnya.

Editor           : Dimas Ryandi
Reporter      : Igman Ibrahim