Karding: Lebih Baik Fokus Dakwah Ketimbang Main Politik

JawaPos.com – Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain meminta maaf karena menyebarkan informasi tidak benar terkait Rancangan UU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). Itu disampaikan pada salah satu ceramahnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding mengusulkan Tengku Zulkarnain lebih baik fokus ke dakwah saja. Ketimbang membuat gaduh dengan menyebarkan hoaks ke masyarakat.

“Usul saya fokus saja ke dakwah untuk kemaslahatan umat. Daripada main di ranah politik, tapi dampaknya tidak baik‎,” ujar Karding kepada JawaPos.com, Rabu (13/3).

Menurut Karding, Tengku Zulkarnain saat ini sudah terlalu jauh terjun ke politik. Padahal dia adalah seorang ustad dan ulama yang selalu berdakwah ke masyarakat.

“Tengku Zulkarnain bukan hanya hari ini, ada beberapa juga kasus yang menurut saya, lebih menonjol nuansa politiknya dari pada dakwah keagaamnya,” katanya.

Kejadian ini, lanjut Karding, sebaiknya menjadi pelajaran bagi Tengku Zulkarnain agar berhati-hati dan lebih teliti sebelum menyampaikan sesuatu. Sehingga tidak menjadi polemik di masyarakart.

“Agar tidak mudah menyebarkan hoaks, karena di media sosial sangat cepat viral dan tentu itu tidak akan berdampak baik bagi masyarakat,” pungkasnya.

‎Sekadar informasi setelah menyampaikan informasi tidak benar itu, Tengku Zulkarnain lewat akun ‎Twitter miliknya @ustadtengkuzul menyampaikan permintaan maaf ke publik pada Selasa (12/3).

Tengku Zulkarnain menyampaikan permintaan maafnya karena tidak cermat dalam membaca, bahwa tidak ada dalam RUU PKS ini yang meyebutkan penyediaan alat kontrasepsi.

“Setelah mencermati isi RUU PKS saya tidak menemukan pasal penyediaan alat kontrasepsi oleh pemerintah untu pasangan remaja dan pemuda yang ingin melakukan hubungan suami isteri. Dengan ini saya mencabut isi ceramah saya tentang hal tersebut. Dan meminta maaf krn mendapat masukan yg salah,” tulis Tengku Zulkarnain.

Editor           : Dimas Ryandi
Reporter      : Gunawan Wibisono