Jokowi: Saya Bukan Diktator dan Pelanggar HAM

JawaPos.com – Dalam deklarasi para alumni Univeritas Trisakti, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) berpidato seperti seorang demonstran yang sedang berunjuk rasa. Dengan menggunakan megaphone dan jaket bertuliskan ‘Suara Reformasi’, Jokowi memberitahukan kepada para mantan alumni Trisakti dan universita lain, dirinya bukan pemimpin yang diktator.

“Saudara-saudara sekalian, saya bukan diktator, juga bukan pelanggar HAM,” ujar Jokowi di Hall Basket, GBK, Jakarta, Sabtu (9/2).

Karena bukan diktator dan pelanggar HAM, Jokowi mene‎gaskan dirinya bersama dengan pendampingnya Ma’ruf Amin tidak memiliki beban masa lalu.

“Saya tidak memiliki beban di masa lalu, terima kasih,” tegasnya.

Adapun, ‎Para alumni dari Universitas Trisakti dan kampus lainnya mendeklarasikan diri mendukung capres dan cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin ‎untuk Pilpres 2019 ini.

Dalam deklarasi itu juga ditampilkan mengenai video perjuangan para mahasiswa Universitas Trisakti dalam mewujudkan reformasi. Termasuk juga ada testimoni dari para mahasiswa angkatan 1997 dan 1998.

Jokowi yang menyaksikan pemutaran video pendek itu mengatakan tidak ingin peristiwa yang menjadi sejarah Indonesia pada 1998 untuk tidak terulang lagi di kemudian hari.

Demokrasi ini sudah berjalan dengan baik dan matang. Sehingga jangan lagi ada kejadian seperti di tahun 1998 silam, yang merengut nyawa empat orang mahasiswa Trisakti.

“Demokrasi ini semakin matang, dewasa. Sehingga‎ tidak ada lagi korban seperti 98, dan Trisakti ini beri kontribusi besar pada reformasi 98,” katanya.

Adapun dalam deklarasi ini, Presiden Jokowi diberikan sebuah jaket jeans bertuliskan ‘Suara Reformasi’ di bagian belakangnya.

Sekadar informasi, Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta,Indonesia serta puluhan lainnya luka.

Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976 -1998), dan Hendriawan Sie (1975-1998). Mereka tewas tertembak di dalam kampus Universitas Trisakti terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.

Editor           : Kuswandi
Reporter      : Gunawan Wibisono