Investasi Politik NasDem Ciptakan Calon Pemimpin Masa Depan

JawaPos.com – Partai NasDem berupaya menciptakan calon pemimpin dengan mempersiapkan kader-kader muda. Salah satu upaya NasDem dalam membangun investasi politik jangka panjang adalah dengan membuat sekolah kader partai yakni Akademi Bela Negara (ABN).

Ketua Bapilu Partai NasDem Effendy Choirie optimis NasDem bisa mempersiapkan kader muda untuk menjadi pemimpin. Apalagi, kata dia, Ketua Umum NasDem Surya Paloh kerap mengundang kader muda secara perorangan untuk diberikan motivasi.

“Slamet Junaidi (Bupati Sampang) orang enggak pernah berpartai digembleng terus-terusan. Nah pendidikan NasDem itu juga ada yang informal. Pak Surya itu sering mengundang perorangan terus dimotivasi terus digembleng begini begitu, jadi dia,” kata pria yang akrab disapa Gus Choi kepada wartawan, Minggu (10/2)).

Kemudian soal ABN, Gus Choi menyebut kader-kader muda diberikan pendidikan secara khusus selama empat bulan. Jadi, suatu saat akan lahir dari ABN.

“Ketika saya jadi ketua DPW Jawa Timur saya memang telah melakukan 48 kali sekolah kader. Di tempat lain belum ada pada saat itu. Nah diskusi bagaimana kita punya kader karena partai itu memang membutuhkan kader maka kemudian lahirlah ABN. Akademi Bela Negara itu sebetulnya adalah lembaga untuk menciptakan kader NasDem,” katanya.

Kader Nasdem, lanjutnya, harus memahami betul tentang restorasi, jati diri bangsa, ideologi bangsa dan tentang sistem negara serta sejarah Indonesia. “Nah itu yang ingin diwujudkan oleh NasDem sehingga wujudnya adalah kader yang restoratif,” ucapnya.

Gus Choi menjabarkan, kader restoratif itu adalah seseorang yang akan bekerja secara kolektif dan selalu punya pandangan untuk memperbaiki. Yang selalu punya pandangan untuk membangun.

“Yang selalu punya pandangan untuk mempersatukan. Selalu pandangan membawa optimisme, kader yang selalu memberikan pencerahan. Yang selalu berbagi energi positif kepada masyarakat. Yang terus mengajak masyarakat untuk berbuat baik. aBerikutnya kader yang selalu menggali nilai-nilai lama yang baik yang hilang itu harus diangkat kembali warisan-warisan lama. Yang hilang itu harus diangkat, harus ditampilkan kembali karena itu warisan budaya yang baik,” tuturnya.

Editor           : Bintang Pradewo