Ahok Kembali ke Gelanggang Politik, Remisi Nyoman Susrama Dicabut

JawaPos.com – Setelah lama dikabarkan bakal merapat ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), akhirnya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok resmi bergabung dengan partai berlogo banteng moncong putih. Bergabungnya Ahok ke PDIP cukup menyita perhatian, karena itu berarti ia akan kembali satu gerbong dengan Joko Widodo (Jokowi), atasannya ketika dulu menjabat sebagai Wagub DKI Jakarta.

Posisi Ahok kini semakin menegaskan polarisasi bahwa pendukung Ahok atau Ahokers adalah juga pendukung Jokowi di pilpres 2019. Setidaknya itulah yang menjadi pandangan dari kubu penantang, kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Kok takut, memangnya siapa Ahok? Bukannya memang Ahokers sudah di kubu Jokowi? Ya, sekalian saja biar makin terang benderang kaum sana dan kaum sininya,” ujar Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono kepada JawaPos.com, Jumat (8/2) lalu.

Ahok Kembali ke Gelanggang Politik, Remisi Nyoman Susrama DicabutAlmarhum Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa, wartawan Jawa Pos Radar Bali yang menjadi korban pembunuhan berencana oleh I Nyoman Susrama. (JAWA POS PHOTO)

Bergabungnya Ahok dengan partai yang membesarkan nama Presiden RI itu terkuak saat bersilaturahmi ke DPD PDIP Bali beberapa waktu lalu. Ahok atau yang sekarang lebih senang disapa BTP tiba di kantor DPD PDIP Bali sekitar pukul 15.58. Sekitar satu jam kemudian, BTP pun keluar ruangan dengan mengenakan jaket PDIP berwarna merah.

Untuk lebih menegaskan lagi keanggotaannya di PDIP, Ahok lantas merogoh Kartu Tanda Anggota (KTA) yang terselip di sakunya, dan memamerkannya ke media. Rupanya, mantan suami Veronica Tan itu sudah menjadi kader PDIP sejak akhir Januari.

“Kami menyampaikan bahwa Bapak Ahok sudah resmi di PDIP. Bergabung dengan kami satu wadah, sejak 26 Januari lalu. Dan beliau saat ini silaturahmi ke sekretariat kami, sambil jalan-jalan di Bali,” kata Sekretaris Dewan Pertimbangan Daerah (Deperda) PDIP Bali Nyoman Adi Wiryatama, dikutip dari Bali Express (Jawa Pos Group), Jumat (8/2).

Sementara itu, sebagai tokoh yang turut berperan melabeli Ahok ‘penista agama’, Ma’ruf Amin yang didapuk sebagai cawapres Jokowi kini berharap banyak pada mantan Bupati Belitung Timur itu. “Ya mudah-mudahan saja ya (menambah elektabilitas, Red). Insya Allah itu kan PDIP pendukungnya Pak Jokowi,” kata Ma’ruf.

Remisi Susrama Dicabut
Selain kabar bergabungnya Ahok ke PDIP, pekan ini publik juga disibukkan dengan polemik mengenai pemberian remisi terhadap I Nyoman Susrama. Susrama merupakan terpidana kasus pembunuhan berencana wartawan Radar Bali (Jawa Pos Group), AA Gde Bagus Narendra Prabangsa.

Setelah mendapat kritik dan masukan dari berbagai pihak, Presiden Jokowi akhirnya membatalkan pemberian remisi terhadap Susrama. Pembatalan remisi itu dikatakan Jokowi usai menghadiri puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Grand City, Surabaya, Sabtu (9/2).

Momen itu terjadi di sela-sela Presiden Jokowi bersalaman dengan para peserta yang hadir dalam perhelatan tersebut. Saat itu Pemimpin Redaksi Jawa Pos Koran, Abdul Rokhim menanyakan ke Presiden Jokowi mengenai remisi yang didapat oleh Susrama.‎

“Pak Jokowi, kami masih menagih revisi remisi pembunuh Prabangsa, Pak,” tanya Abdul Rokhim ke Presiden Jokowi‎ di lokasi.

Dengan senyuman Presiden Jokowi pun menimpali pertanyaan dari Pemimpin Redaksi Jawa Pos Koran, Abdul Rokhim, bahwa dirinya telah meneken Keppres pembatalan remisi yang didapat Susrama.

“Sudah, sudah saya tanda tangani,” timpal Jokowi sambil tersenyum kecil.

Mendengar kabar bahagia ini, istri Prabangsa (Alm), Sagung Mas Prihantini merasa sangat bersyukur. “Sangat bersyukur, berkat Tuhan bagi kami,” kata Prihantini.

Prihantini sebelumnya memang sempat mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi. Surat tersebut berisikan isi hatinya yang tulus meminta agar Presiden mencabut remisi Susrama yang pada awalnya seumur hidup menjadi hanya 20 tahun.

“Terlalu berat bagi kami mengetahui bagaimana suami saya dibunuh dengan cukup sadis oleh pelaku Susrama. Demikian bapak Jokowi harapan kami semua,” tulisnya dalam surat itu.

Kasus pembunuhan berencana itu terjadi pada 11 Februari 2009 silam di kediaman Susrama yang berlokasi di Banjar Petak, Bangli. Eksekusi pembunuhan diperkirakan dilakukan pada sekitar pukul 16.30 hingga 22.30 WITA‎.

Diketahui, Susrama bukan pelaku langsung, melainkan aktor intelektual yang mendalangi aksi keji itu. Selain Susrama, polisi juga menetapkan enam orang lainnya sebagai tersangka, yaitu Komang Gede, Nyoman Rencana, I Komang Gede Wardana alias Mangde, Dewa Sumbawa, Endy, dan Jampes.

Adapun kronologinya adalah, Komang Gede berperan sebagai penjemput korban. Nyoman Rencana dan Mangde menjadi eksekutor pembunuhan dan membawa mayat korban untuk dibuang ke laut di Perairan Padangbai, Karangasem. Sedangkan Dewa Sumbawa, Endy, dan Jampes, bertugas membersihkan darah korban.

Kasus ini mulai terkuak setelah mayat korban ditemukan mengambang di pesisir Klungkung pada 16 Februari 2009 dalam kondisi mengenaskan. Hasil penyelidikan mengarah kepada Nyoman Susrama yang terbukti sebagai otak dari aksi pembunuhan berencana ini.

Motif pembunuhan ini bermula dari kekesalan Susrama terhadap Prabangsa karena pemberitaan wartawan Radar Bali Jawa Pos Group tersebut. Prabangsa diketahui menulis berita terkait dugaan korupsi yang dilakukan Susrama, yakni proyek-proyek Dinas Pendidikan di Kabupaten Bangli sejak awal Desember 2008 hingga Januari 2009.

Salah satu proyek yang disorot dalam pemberitaan Prabangsa adalah proyek pembangunan taman kanak-kanak dan sekolah dasar internasional di Bangli. Susrama kala itu menjadi pemimpin proyek tersebut. Inilah yang kemudian membuat Susrama merancang rencana untuk membunuh Prabangsa.

Susrama adalah adik Bupati Bangli yang menjabat sejak 2000 hingga 2010, I Nengah Arnawa. Ketika kasus pembunuhan itu terjadi, Susrama baru saja terpilih sebagai anggota DPRD Bangli dari PDIP, namun belum dilantik.

Susrama merupakan calon anggota legislatif (caleg) PDIP yang terpilih sebagai anggota DPRD Bangli periode 2009-2014. Caleg dengan nomor urut 10 di PDIP ini meraih suara terbanyak, yakni 4.800 suara di Daerah Pemilihan (Dapil) I Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.‎

Editor           : Estu Suryowati
Reporter      : Igman Ibrahim, Gunawan Wibisono, Sabik Aji Taufan