Ahok Gabung PIDP, TKN Tak Khawatir Suara Jokowi Tergerus

JawaPos.com – Pasca keluar dari penjara lantaran terjerat kasus penistaan agama, langkah politik dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok menjadi sorotan. Belakangan ini, pria yang kini dipanggil BTP itu telah melabuhkan pilihan ke partai penguasa PDI Perjuangan.

Selain telah memilih bersinggah ke PDIP, Ahok juga telah mendeklarasikan diri untuk mendukung pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin. Keputusan inilah yang kemudian disoroti banyak pihak. Apakah bergabungnya Ahok akan menambah elektoral atau justru menggerus suara petahana.

Menjawab hal tersebut, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadizly menilai tidak khawatir dengan bergabungnya Ahok dipersepsikan akan menggerus suara pemilih paslonnya di pilpres 2019. Khususnya, dalam sektor pemilih muslim.

“Kami tidak terlalu khawatir dengan Ahok effect terhadap elektoral Pak Jokowi. Karakter pemilih Pak Ahok dengan karakter pemilih Pak Jokowi memiliki irisan yang sama,” kata Ace saat dihubungi JawaPos.com, Senin (11/2).

Di sisi lain, kata dia, pihaknya menghormati keputusan Ahok untuk bergabung dengan PDIP. Apalagi, partai besutan Megawati Soekarnoputri itu sama-sama berada di gerbong untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf.

“Jadi tak perlu dikhawatirkan dengan bergabungnya Pak Ahok ke PDIP yang merupakan salah satu partai pendukung Pak Jokowi,” tuturnya.

Namun, kubu petahana bisa jadi tetap saja ‘dihantui’ mengenai stigmatisasi bakal ditinggalkan pemilih muslim pasca bergabungnya Ahok. Apalagi, pada pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, sejumlah penolakan keras dari umat muslim pun digulirkan sejumlah kelompok Islam.

Kala itu, ucapan Ahok soal surat Al-Maidah ayat 51 membuat demonstrasi jutaan umat hingga berjilid-jilid di kawasan ibu kota Jakarta. Kekhawatiran ini juga ditangkap oleh Juru Bicara (Jubir) BPN Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahean.

Bagi dia, kehadiran mantan Bupati Belitung Timur itu tidak akan berguna bagi Jokowi-Ma’ruf Amin. Ferdinand malah pesimis kehadiran Ahok akan menggerus pemilih petahana di sektor pemilih muslim.

“Kehadiran Ahok tidak akan berguna bagi Jokowi-Ma’ruf dan hanya akan jadi beban. Bisa saja kaum Muslim akan berpaling dan meninggalkan Jokowi dengan hadirnya Ahok,” tuturnya.

Akan tetapi kabar baiknya, memang Ahok akan membuat pemilih yang berasal non muslim semakin solid mendukung 01. Tapi, menurut Ferdinand, itu tidak sebanding dengan hilangnya pemilih muslim Indonesia.

“Betul minoritas bisa makin berkumpul di PDIP dan Jokowi, tapi umat Muslim mungkin akan pergi. Jadi Jokowi akan dirugikan,” terangnya.

Memang, untuk menentukan untung-rugi atau menghitung dampak elektoral harus dikaji mendalam melalui survei atau jajak pendapat. Untuk saat ini, belum ada kajian yang dilakukan lembaga survei untuk mengetahui hubungan kehadiran Ahok dengan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf.

Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai keputusan Ahok untuk bergabung dengan PDIP dan mendukung Jokowi-Ma’ruf perkara biasa. Yang menjadi tidak biasa, kemudian para elite politik mulai berhitung-hitung mengenai konsekuensi elektoral bergabungnya Ahok.

“Terlalu buru-buru memang mengukur efek Ahok dalam pilpres. Yang jelas, Ahoker tak lagi galau tentukan arah politiknya,” kata dia.

PDIP, kata Adi, dinilai harus berhati-hati ‘mentreatment’ Ahok untuk dikaitkan dalam pilpres. Mengingat, masa lalu pria yang kini jadi Youtuber itu soal penistaan agama masih melekat di pemilih muslim. Belum lagi, konstestasi pilpres kali ini isu agama semakin meninggi.

“Tentu harus ada pertimbangan matang bagaimana seharusnya memperlakukan Ahok. Dilematis memang. Satu sisi ahok bisa meyakinkan ahoker untuk tak golput. Tapi sisi lain, Ahok selalu dikaitkan dengan kasus Al-maidah. sentimen ini yang perlu diantisipasi,” pungkasnya.

Diketahui, setelah bebas dari penjara, BTP tetap konsisten berpolitik. Pada 26 Januari 2019, dirinya resmi menjadi kader PDIP. Bahkan setelah itu, dia mendeklarasikan diri mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Editor           : Kuswandi
Reporter      : Igman Ibrahim