‎TGB: Saat Rizieq Dipenjara Kenapa Tidak Ada Isu Kriminalisasi Ulama

JawaPos.com – Koordinator Bidang Keumatan Partai Golkar, Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) mengeluhkan saat ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus diserang dengan kriminalisasi ulama. Padahal menurut TGB, saat Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shibah dipenjara sebelum era Presiden Jokowi. Tidak ada yang menyebut Habib Rizieq korban kriminalisasi ulama.

‎”Khusus Al Habib Muhammad Rizieq Shihab pada waktu yang lalu menghadapi proses hukum, dan beliau mendapatkan hukuman. Tidak ada yang bertanya mengenai kriminalisasi ulama,” ujar TGB di Posko Rumah Cemara, Jakarta, Kamis (7/2).

Oleh sebab itu menurut TGB, kenapa saat ini Presiden Jokowi dituduh melakukan kriminalisasi ulama. Hal ini tentu tidak berbanding lurus terhadap fakta-fakta yang ada terdahulu.

“Tapi sekarang semua keburukan diberikan kepada Pak Jokowi, padahal saya melihat tidak seperti itu,” katanya.

Lebih lanjut, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) juga mengimbau kepada masyarakat tidak menjadikan Pilpres 2019 sebagai momentum untuk perang. Namun sebaiknya berlomba-lomba untuk mencari kebaikan.

“Pilpres ini bukan medan perang, bukan perang badar, bukan armagedon tapi ini adalah ajang demokrasi yang diharapkan bisa menghasilkan kepemimpinan yang baik untuk kita semua,” pungkasnya.

Sekadar informasi di era Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, tepatnya pada 21 April 2003, Habib Rizieq Shihab pernah mende‎kam dipenjara selama 7 bulan. Dia terbukti melakukan penghasutan melalui media televisi, menganggu ketertiban, merusak fasilitas umum, dan merendahkan pemerintah.

Kemudian di era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tepatnya pada 30 Oktober 2008. Habib Rizieq merasakan dinginnya jeruji besi selama 1 tahun 6 bulan.

Dia terbukti sebagai dalang menganjurkan, membiarkan anak buahnya yakni FPI melakukan kekerasan dan pengrusakan secara bersama-sama di muka umum. Rizieq juga menebarkan kebencian dengan seruan pada ceramah keagaan untuk bisa memerangi jamaah Ahmadiyah.‎

Editor           : Kuswandi
Reporter      : Gunawan Wibisono